Senin, 17 Juni 2013
TEST KENAIKAN SABUK PUTIH 2012
Sabtu, 11 Desember 2010
Kamis, 08 April 2010
PANCA DASAR
Dalam PSHT kita tidak hanya belajar pencak silat atau beorganisasi tapi lebih dari itu maka dari kita mengenal adanya 5 dasar PSHT , meliputi :
1.Persaudaraan.
2.Olahraga
3.Beladiri
4.Kesenian.
5.Kerohanian / Ke – SH – an .
1. Persaudaraan :
Persaudaraan adalah suatu hubungan batin antara manusia dengan manusia yang sifatnya seperti saudara kandung dan ini di tanamkhan sejak siswa mulai mengecap pelajaran PSHT.Dengan persaudaraan , manusia di akui dan di perlakukan sesuai dengan harkat martabatnya sebagai makhluk Tuhan yang sama derajatnya. Perlakuan ini tanpa membedakan hak dan kwajiban azasinya , kedudukan sosial ekonomi , keturunan , agama & kepercayaan , jenis kelamin dll . Yang mana Persaudaraan dalam PSHT bersifat kekal dan abadi.
2. Olahraga :
Pengertian olahraga di sini adalah mengolah tubuh / raga dengan gerakan2 pencak silat yang terdapat dalam PSHT. Adapun manfa’at bermain pencak silat :
- Memperbaiki suasana hati.
- Menumbuhkhan rasa percaya diri
- Mengurangi stress
- Menguatkhan otot tubuh .
- Membantu proses metabolisme dalam tubuh.
- Membina kekuatan , kecepatan , ketepatan dan keseimbangan .
3. Beladiri :
Dengan pencak silat yang di jiwai oleh pengenalan kepada sang pencipta dan diri pribadi maka pencak silat berfungsi sebagai alat membela diri untuk mempertahankhan kehormatan.
PSHT tidak mengajarkhan beladiri asing , karena pencak silat yang berakar pada budaya asli Indonesia tidak kalah mutunya dengan beladiri asing . Dengan demikian PSHT ikut mempertahankhan dan mengembangkan kepribadian bangsa Indonesia.
4. Kesenian :
Seni adalah keindahan , dimana kesenian dalam pencak silat dapat berbentuk permainan tunggal , ganda atau massal .
Adapun tujuan seni dalam pencak silat :
- Memelihara kaidah pencak silat yang baik dengan menumbuhkhan kelenturan , keluwesan dan keindahan gerakan yang di hubungkan dengan keserasian irama.
- Sebagai latihan dalam pengembangan aspek keserasian dan keselarasan yang di harapkhan dapat berpengaruh dalam sikap dan perilaku hidupnya.
5. Kerohanin / Ke – SH – an :
Di dalam PSHT , kerohanian sering di sebut dengan ke – SH- an . kerohanian merupakan sumber azasi Tuhan YME untuk mencapai Manusia yang berbudi luhur guna kesempurnaan hidup . Adapun tujuan kerohanian dalam PSHT adalah unutk mendidik anggota PSHT yang berjiwa setia hati agar di dalam menempuh kehidupan ini memperoleh kebahagian dan kesejahteraan lahir batin dunia dan akhirat .
Ajaran PSHT
Lewat konsep pembelajaran yang terangkum dalam Panca Dasar tersebut PSHT berupaya membimbing warganya untuk memiliki lima watak dasar yaitu :
1. Berbudi luhur tahu benar dan salah serta bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.
2. Pemberani dan tidak takut mati.
3. Berhadapan dengan masalah kecil dan remeh mengalah, baru bertindak jika menghadapi masalah prinsip yang menyangkut harkat dan martabat kemanusiaan.
4. Sederhana.
5. Mamayu Hayuning Bawana (berusaha menjaga kelestarian, kedamaian, dan ketentraman hati).
Melengkapi eksistensi sebagai organisasi cinta perdamaian, PSHT memformat warganya lewat beberapa butir filsafat perjuangan hidup, antara lain:
1. Sepiro gedhining sengsoro yen tinompo amung dadi cobo(seberat apapun cobaan yang diterima manusia jika dijalani dengan lapang dada akan diperoleh hikmah yang tidak terkira.)
2. Sak apik-apike wong yen aweh pitulungan kanthi dhedhemitan (Sebaik-baiknya manusia jika memberikan pertolongan dengan ikhlas tanpa pamrih dan tidak perlu diketahui orang lain).
3. Aja waton ngomong ning ngomong kang ngango waton (jangan suka berbuat jelek pada sesama berbuatlah kebajikan pada sesama).
4. Aja seneng gawe ala ing liyan, apa alane gawe senenge liyan (jangan suka mencelakakan orang lain, tidak ada jeleknya membuat senang orang lain).
5. Aja sok rumangsa bisa, nanging sing bisa rumangsa (jangan merasa diri paling super, tapi sadar diri dan sadar akan keberadaan orang lain).
6. Ngundhuh wohing pakarti, sapa nandur bakal ngundhuh (segala darma pasti akan berbuah, apapun perbuatan yang kita lakukan pasti akan kembali pada diri kita sendiri).
Minggu, 14 Maret 2010
PENGAMBILAN SABUK JAMBON
Pelatih tetap mas Ma'ruf Hidayat dan didampingi oleh Mas Farid Amrulloh, memulai latihan seperti biasa, melakukan pemanasan, kemudian dilanjutkan lari-lari mengintari daerah Tonatan trus ke timur sampai jeruksing, dst hingga sampai ke pasinggrahan Watoe Dakon. Penuh dengan keringat membuat adik-adik semangat untuk berlatih, mas-mas warga pun ikut bangga karena semangat dan tekad adik-adik tsb.
Sambil menanti adk-adk hilang rasa capeknya, mas-mas warga menempati pos masing-masing. Pembagian pos sudah ditentukan waktu rapat, yaitu terdiri dari empat pos, pos pertama mendapat materi asdower yang pegang oleh Mas Farid, Mas Rahman dan Mas Roni, kemudian pos dua mendapat materi senam dipegang oleh Mas Agung, Mas Akin, dan Mbak Ririn, pos ketiga jurus dipegang oleh Mas Emon dan Mas huda, dan pos terakhir bagian pengarahan/ke-SH-an yang diisi oleh tamu kita mas agus dan mas eko.
Siswa satu persatu dipanggil untuk melaksanakan tes tsb, dengan penuh keyakinan dan semangat yang berkobar demi mendapatkan sabuk jambon/demi kenaikan tingkat halangan apapun mereka tempuh. Satu demi satu siswa pun telah selesai melaksanakan tugas dari pos I sampai Pos terakhir. Siswa yang sudah selesai tugasnya langsung menemui mas Erifa untuk mendapatkan pencerahan atau wawasan tentang kegiatan yang ada di kampus STAIN Ponorogo, beliau selaku Ketua Komisariat STAIN Ponorogo.
Tarung antar siswa pun segera dimulai (sambung), disini sambung tidak diartikan saling melukai antar siswa, melainkan menumbuhkan rasa persaudaraan yang kuat, penuh dengan penjiwaan yang mendalam, seni dan pola langkah sangat diperhatikan. Doa sambung yang dipimpin oleh pelatih tetap kita diikuti semua siswa menunjukkan sambung segera dimulai. Membentuk sebuah lingkaran besar, satu persatu masuk dalam kalangan, gerakan, seni, pola langkah akan dilagakan dalam pertandingan tsb. Waktu menunjukkan pukul 12.00 malam, sambung pun diakhiri. . . .
Dan akhirnya sampailah ke acara puncak yaitu pengambilan sabuk di kuburan atau pasarehan, pos-pos sudah terbagi dan siap untuk maju. . . .
Didalam kuburan adik2 dilatih mentalnya agar kelak terbiasa dengan hal2 yang membuat takut seseorang. Seorang pendekar PSHT harus siap menerima cobaan apapun, dan pantang menyerah guna mencapai sebuah kesuksesan. Satu demi satu siswa telah menemukan sabuk yang ditaruh disuatu tempat menurut mas mas warga sulit ditemukan. Suatu kebanggaan tersendiri muncul dibenak adik2 semua, yang telah selesai melaksanakan ujian kenaikan tingkat dari polos ke jambon, wajah yang sebelumnya kusut telah terlihat bugar kembali. Sukses buat adik-adik semua, semangatlah untuk berlatih dan berlatih guna tercapainya tujuan kalian.
Sabtu, 27 Februari 2010
MAKNA LAMBANG PSHT
1. Segi empat panjang
- Bermakna Perisai.
2. Dasar Hitam
- Bermakna kekal dan abadi.
3. Hati putih bertepi merah
- Bermakna cinta kasih ada batasnya.
4. Merah melingkari hati putih
- Bermakna berani mengatakan yang ada dihati/kata hati
5. Sinar
- Bermakna jalannya hukum alam/hukum kelimpahan
6. Bunga Terate
- Bermakna kepribadian yang luhur
7. Bunga terate mekar, setengah mekar dan kuncup.
- Bermakna dalam bersaudara tidak membeda-bedakan latar belakang
8. Senjata silat
- Bermakna pencak silat sebagai benteng Persaudaraan.
9. Garis putih tegak lurus ditengah-tengah merah
- Bermakna berani karena benar, takut karena salah
10. Persaudaraan Setia Hati Terate
- Bermakna mengutamakan hubungan antar sesama yang tumbuh dari hati yang tulus, ikhlas, dan bersih.
- Apa yang dikatakan keluar dari hati yang tulus.
- Kepribadian yang luhur.
11. Hati putih bertepi merah terletak ditengah-tengah lambang
- Bermakna netral
Senin, 22 Februari 2010
LOYALITAS WARGA SH TERATE
Loyalitas organisasi, atau kesetiaan terhadap organisasi adalah faktor penting yang menentukan hidup matinya organisasi. Loyalitas organisasi dapat membuat sebuah organisasi tumbuh berkembang menjadi besar, atau justru mati perlahan-lahan. Loyalitas terhadap organisasilah yang membuat seorang karyawan bekerja setiap hari di perusahaan, simpatisan parpol menyumbang dana kampanye untuk calon pilihannya, atau seorang mahasiswa rela bekerja sebagi panitia acara kampus.Dengan kata lain, loyalitas terhadap organisasi adalah urat nadi sebuah organisasi, sesuatu yang membuat para anggotanya berperilaku, bertindak, atau berkorban demi kepentingan organisasi.Bagaimana di SH Terate?
Loyalitas organisasi adalah sesuatu yang sangat vital di SH Terate. Vital karena SH Terate adalah organisasi "non profit" yang tujuannya bukan untuk mencari keuntungan. SH Terate juga tidak berafiliasi pada aliran politik manapun, pada agama tertentu, atau pada segolongan tertentu. Artinya eksistensi organisasi SH Terate semata-mata ditentukan oleh rasa memiliki anggota organisasi (Warga) terhadap SH Terate, yang dimana rasa memiliki itu dinaungi oleh rasa persaudaraan antara masing-masing anggota. Itulah SH Terate kita?
Bagaimana loyalitas Warga SH Terate terhadap SH Terate, selama ini?
Ada tiga jenis loyalitas Warga di SH Terate. Yaitu loyalitas material, loyalitas emosional, dan loyalitas spiritual.
Berikut akan diterangkan satu persatu.
Loyalitas material, yaitu loyalitas semata-mata karena imbalan materi yang didapatnya dari SH Terate. Dengan kata lain, Warga tersebut hanya eksis, aktif di SH Terate bila SH Terate memberikan imbalan kepadanya yang bersifat material. Material yang dimaksud disini bukan hanya uang, tetapi juga "materi/benda" lainnya seperti misalnya makanan, minuman, bingkisan hadiah, fasilitas dsb. Karena loyalitasnya semata-mata ditentukan materi, maka Warga tersebut hanya aktif bila ada imbalan materi. Demikian sebaliknya, apabila ada suatu hal di SH Terate yang membutuhkan pengorbanan materi dari anggotanya, biasanya warga tersebut enggan untuk memberikan. Karena itulah, loyalitas ini yang paling rendah tingkatannya.
Loyalitas emosional, yaitu loyalitas semata-mata karena "imbalan emosional" yang didapatnya di SH Terate. Loyalitas emosional lebih tinggi tingkatannya daripada loyalitas material. Pada loyalitas emosional, warga tersebut aktif karena SH Terate memberikan pengalaman atau perasaan yang menyenangkan baginya. Keakraban, ikatan emosional antara warga, pengalaman mendebarkan saat bertanding atau berkelahi, perasaan superior (merasa kuat), pujian, penghargaan atau penghormatan dari orang-orang/warga lain, dsb... semua itu adalah imbalan yang bersifat "emosional" yang diberikan oleh SH Terate. Artinya
Warga tersebut hanya aktif selama SH Terate menyenangkan baginya. Demikian sebaliknya, bila ia mendapat pengalaman tidak menyenangkan di SH Terate, ia akan marah/kecewa (mutung) kemudian berhenti aktif.
Loyalitas yang paling tinggi tingkatannya adalah loyalitas spiritual. Loyalitas ini bersifat internal, muncul dari dalam diri seorang warga SH Terate sendiri. Keaktifannya di SH Terate tidak dipengaruhi oleh materi ataupun ikatan emosional. Keakatifannya di SH Terate semata-mata karena "saya adalah orang SH Terate", semata-mata karena rasa tanggung jawab menjadi seorang insan SH Terate. Pada tingkatan ini, seorang warga tidak memiliki alasan apapun untuk aktif, selain karena rasa tanggung jawabnya terhadap SH Terate. Mendapatkan imbalan materi atau penghormatan/pujian bukan hal yang penting baginya. Demikian juga sebaliknya, bila ada kesempatan ia rela mengorbankan materi, atau bila ia menemui kekecewaan atau pengalaman buruk di SH Terate, hal itu tidak membuatnya mundur untuk beraktivitas di SH Terate. Ketika loyalitas material dan emosional masih bersifat eksternal, dipengaruhi oleh sesuatu di luar diri seorang Warga, maka loyalitas spritual sudah bersifat internal, berasal dari dalam diri sendiri, digerakkan semata-mata oleh hati nurani (consience) yang mampu membedakan mana benar mana salah.
Bahasa awamnya, loyalitas material adalah "saya aktif di SH Terate karena saya mendapatkan sesuatu (barang/uang)"; loyalitas emosional adalah "saya aktif di SH Terate karena merasa senang disitu",
dan loyalitas spiritual adalah "saya aktif di SH Terate karena saya orang SH Terate".
Sebagian besar warga SH Terate masih terjebak di loyalitas material dan emosional. Belum banyak yang mampu melangkah ke loyalitas spiritual. Dan loyalitas ini tidak ditentukan oleh tingkatan, apakah tingkat I atau II, dan juga tidak ditentukan oleh lamanya seseorang menjadi warga SH Terate. Kadang ada warga yang sudah bertahun-tahun disahkan namun baru sampai di tingkat loyalitas material, tetapi ada juga warga yang baru disahkan langsung memiliki loyalitas emosional.
Namun loyalitas macam apa yang dimiliki hanya bisa diketahui oleh diri masing-masing. Artinya hanya kita sendiri yang tahu loyalitas apa yang kita berikan pada SH Terate. Apakah masih bersifat material, emosional, atau sudah spiritual?

